Jangan Sampai Anti Sosial

Adib Setiawan, M.Psi, Psikolog - 2013-06-27 07:34:05
Adib Setiawan, M.Psi, Psikolog
 

Menurut Adib Setiawan, M.Psi., Psikolog dari www.praktekpsikolog.com,  ponsel pintar secara umum bisa berpengaruh buruk. Apalagi sikap konsumerisme masyarakat yang terus mengikuti tren akan membuat mereka terpengaruh oleh pasar. Demi tren pula, banyak remaja berlomba memiliki smartphone agar tak dianggap ketinggalan zaman oleh teman - temannya.

“Bahkan dalam tataran ekstrem, beberapa orang ‘memaksakan’ untuk memiliki smartphone atau tablet hanya karena faktor gengsi.  Tentunya tekanan dunia sosial seperti ini sangat memengaruhi kondisi psikis seseorang. Belum lagi maraknya penipuan dari perkenalan melalui media sosial. Orang-orang yang tidak memiliki kepribadian yang kuat tentunya bisa tertipu melalui media sosial, handphone, ataupun smartphone,” ungkap Adib.

MENJAUHKAN YANG DEKAT

Mungkin Anda pernah mendengar istilah, ‘Gadget itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’. Ya, sekarang ini seperti sudah jadi pemandangan yang biasa jika anak dan orang tua yang duduk berhadapan saja, masing masing sibuk dengan gadget-nya sendiri. Si ayah sibuk dengan pekerjaan, si ibu asyik chatting dengan temannya, sementara si anak disuguhi teknologi dengan beragam game-nya, supaya diam.

“Betul sekali, seringkali seseorang karena sibuk dengan teknologi yang dimiliki akhirnya dia kurang memperhatikan kehidupan sosial sebenarnya. Sebagai contoh, ketika orang tua lebih sibuk pada smartphone-nya daripada memberikan pengasuhan pada anak,” Adib mencontohkan.

Akibatnya, lanjut Adib, anak menjadi kurang perhatian dan kurang peka pada sesama. “Saat ini sudah banyak sekali remaja kita yang menjadi kurang peka, kurang mau membantu sesama dan lebih individual. Jika hal ini dibiarkan bisa berbahaya untuk generasi yang akan datang. Banyak juga orang mudah mengalami konflik karena teknologi ini,” Adib mengingatkan.

Psikolog yang aktif di Autis Care Indonesia ini kemudian memberikan ilustrasi bahayanya seorang anak kecanduan gadget. Kata dia, anakanak di masa majunya teknologi ini justru banyak yang mengalami kecanduan game dan jadi enggan belajar. Apalagi jika mereka memainkan game-game kekerasan. Beberapa bulan yang lalu misalnya, ada seorang anak usia 7 tahun yang mencelakakan temannya hingga meninggal dunia. Setelah diselidiki, ini akibat dia sering memainkan game yang mengandung kekerasan.

“Para orang tua sebaiknya hati-hati atas kemajuan teknologi. Jika anak tidak diarahkan justru akan mendatangkan bahaya atau malapetaka. Bukan hanya itu, tak sedikit anak yang suka memainkan game kekerasan jadi suka memukul dan mencelakai temannya di sekolah. Belum lagi, orang tuanya pun terlalu sibuk dengan smartphone-nya. Ini membuat anak tidak memiliki kedekatan dengan orang tua. Akibatnya, anak-anak kurang memiliki kasih sayang sehingga jiwanya lebih keras dan sulit diberikan nasihat,” jelas Adib lagi.

Sumber: Wanita Indonesia, Edisi 1223


 
Index Berita
 
 

[Promo Yayasan Praktek Psikolog Indonesia] : Training gratis tema-tema psikologi untuk sekolah, perusahaan, dan masyarakat umum

© 2019 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer