Ketika Si Kecil Hilang

Adib Setiawan, M.Psi - 2013-11-12 08:25:30
Adib Setiawan, M.Psi
 

Pekan lalu, publik Jakarta khususnya, diramaikan oleh berita hilangnya Alma Aini Hakim (6), di kawasan Monas. Beruntung, ia dirawat oleh keluarga yang baik hati dan akhirnya bisa ditemukan.

Apa sebetulnya yang terjadi pada Alma? Kemampuan kognitif seorang anak berkembang secara bertahap dan sesuai usianya. Contohnya, di usia 2 tahun, anak biasanya akan mempelajari lingkungan rumah tempat tinggalnya, seperti dimana ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan sebagainya. Di usia 3-4 tahun, anak belajar tentang lingkungan tetangga, dan di usia 5 tahun, ia belajar lingkungan rumah ke sekolah, dan seterusnya.

Anak juga belajar memahami orang-orang di lingkungan terdekatnya, seperti orangtua, kakak, tante, dan sebagainya. Ia juga memahami lingkungan tempat bermain dan seberapa jauh ia bermain. Di usia 5-6 tahun, anak masih belajar tentang simbol, seperti huruf dan angka. Jadi, ketika ia dihadapkan pada hal-hal yang agak rumit, seperti keramaian, butuh pemikiran yang mendalam.

“Misalnya, untuk mengetahui lokasi dimana ayah atau ibunya menunggu, ia harus memahami simbol atau kode tertentu,” jelas Adib Setiawan, MPsi., psikolog dari www.praktekpsikolog.com, Jakarta. Contoh, orangtua bisa bilang ke anak, 'Nanti kalau Adek terpisah, Mama dan Papa menunggu di dekat mobil warna merah itu ya,' atau di dekat bendera, dekat panggung, dan sebagainya. “Ini sebetulnya membutuhkan analisa yang relatif lebih tinggi dan biasanya baru mulai ketika anak duduk di kelas 4 SD ke atas.”

Kemampuan Membedakan

Situasi lebih rumit dihadapi anak ketika ia kehilangan orangtua atau orang yang mendampinginya di keramaian. Adib menyarankan orangtua atau orang dewasa yang mendampingi anak untuk tetap berdiri di tempat semula, karena seorang anak secara alamiah akan kembali ke tempat semula.

Biasanya, anak baru bisa memahami langkah yang harus ia lakukan supaya tidak hilang ketika duduk di kelas 4 SD. Di usia ini, anak sudah paham apa yang harus ia lakukan, karena di usia ini, ia sudah berpikir secara abstrak, bukan hanya simbol. “Ia sudah mulai mampu menganalisa hal-hal yang saling terkait tadi,” lanjut Adib.

Tentu saja, hal-hal seperti ini memang perlu diajarkan secara bertahap dan orangtua harus mehamami perkembangan kognitif anak. Di bawah kelas 4 SD atau di bawah 10 tahun, mau nggak mau anak harus selalu berada di dekat orangtua, apalagi ketika berada di keramaian. Jangan sampai anak pergi tanpa sepengatahuan orangtua atau orang dewasa.

Kalaupun anak sudah berusia di atas 10 tahun, orangtua tetap perlu memastikan bahwa anak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak. Misalnya, berkomunikasi dengan orang yang dikenal atau tidak dikenal, orang yang sepertinya bakal berbuat jahat atau tidak. “Secara alamiah, anak harus dikenalkan dengan berbagai tipe dan profesi orang, seperti pengemis, petugas keamanan, pedagang, sehingga kemampuan kognitif dan wawasan terhadap lingkungan anak berkembang,” jelas Adib. Sehingga, ketika ia tersesat, ia bisa melapor ke petugas keamanan.

Baju Mencolok

Lalu, apa yang harus diajarkan orangtua kepada anaknya di keramaian dan mengantisipasi jika suatu saat anak tersesat atau hilang? Yang pertama, kata Adib, minta anak berdiri di tempat-tempat yang terlihat, dan minta ia untuk tidak pergi kemana-mana. “Anak yang tersesat, apalagi di usia yang masih kecil, pasti akan kebingungan karena ia memang belum mempunyai kemampuan untuk mengambil solusi yang tepat,” jelasnya.

Kenakan baju yang mencolok supaya lokasi anak bisa terlihat. Khusus untuk anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan kognitif, Adib menyarankan agar mengenakan baju dengan nama (name tag) menyatu dengan pakaian, nama orangtua, serta nomor kontak yang bisa dihubungi. Ini karena anak-anak seperti ini lebih sulit berkomunikasi dan cenderung lebih aktif, seperti suka berlari-larian. Ini berbeda dengan anak-anak normal yang tidak akan sembarangan meninggalkan orangtuanya.

Orangtua juga harus selalu menjaga dan mengawasi anaknya (khususnya jika usianya masih di bawah 10 tahun), misalnya dengan menggandengnya atau berjalan di belakang anak supaya anak selalu terpantau, apalagi pada saat berada di keramaian. “Buat anak, memahami wawasan lingkungan di keramaian yang banyak orang merupakan sesuatu yang rumit. Peran orangtua sangat penting. Orangtua sebaiknya tidak 'menitipkan' pengawasan anak ke orang lain, karena pasti rasa pedulinya berbeda,” lanjut Adib.

Hasto Prianggoro

Peran Media Sosial

Salah satu kunci diketemukannya Alma pada kasus Monas adalah broadcast melalui BBM yang dikirim oleh orangtua Alma. Broadcast BBM itulah yang akhirnya membawa seorang karyawati untuk mencari dan menemukan keberadaan Alma.

Menurut Adib, pemanfaatan media sosial, seperti Facebook, Twitter, BBM, WA, dan sebagainya memang bisa membantu ketika terjadi kasus seperti yang dialami Alma. “Yang penting, informasi yang disampaikan harus jelas, spesifik, dan detail. Misalnya, dimana posisi terakhir anak, baju yang dikenakan, dan ciri-ciri lainnya.”

Pasalnya, lanjut Adib, terkadang orang antara percaya dan tidak pada informasi yang tidak detail, apalagi banyak orang yang iseng di media sosial,” jelasnya. Selain pemanfaatn media sosial, orangtua bisa juga menggunakan media lain seperti radio, teve, atau dari mulut ke mulut, tentu yang pertama adalah lapor kepada pihak yang berwajib.

Hasto

Ajar Anak Berkomunikasi

Untuk mengantisipasi anak-anak terpisah dari pengawasan, orangtua bisa mencoba tips berikut:

1.Sejak dini, kenalkan pemahaman lingkungan kepada anak, baik lingkungan rumah, tetangga, maupun lingkungan bermain. Ini bisa dilakukan sejak anak berusia 2 tahun sampai usia TK. Ketika menginjak usia SD, kemampuan kognitif anak akan semakin berkembang, misalnya bagaimana memahami sekolahnya, bagaimana cara menuju sekolah, dan sebagainya.

2. Latih anak berkomunikasi sejak dini, sehingga ia bisa menjawab pertanyaan orang dewasa dan bisa bertanya kepada orang lain yang mungjkin ditemuinya.

3.Di bawah usia 10 tahun, orangtua sebaiknya selalu mendampingi dan mengawasi anaknya, khususnya pada saat berada di keramaian. Meskipun demikian, orangtua tetap harus mengawasi anaknya meski usia anak sudah lebih dari 10 tahun.

4. Untuk berjaga-jaga, tak ada salahnya orangtua membekali anak dengan ponsel, apalagi kalau sedang berada di tempat umum. Yang penting, ponselnya bukan ponsel cerdas yang mahal. Selain pemborosan, juga malah bisa mengundang orang jahat. Yang penting, ponsel bisa digunakan untuk menelepon dan berkirim SMS.

5. Jangan memercayakan anak-anak untuk mengawasi anak-anak. Anak tetap harus diawasi orangtua atau orang dewasa yang bisa dipercaya.

6.Ajarkan sejak dini simbol-simbol lingkungan seperti mesjid, tempat parkir, pasar, dan sebagainya. Ajarkan anak untuk menunggu di sebuah tempat/titik ketika ia terpisah dari orangtua di keramaian. Ini memang tak selalu mudah atau berhasil. Pada anak-anak yang cenderung “tidak menurut,” imbauan atau permintaan ini seringkali tidak diindahkan.

7.Petugas keamanan atau panitia event tertentu sebaiknya juga menyiapkan antisipasi, misalnya menyediakan pusat pelaporan anak hilang, menyediakan loudspeaker untuk memanggil anak, dan sebagainya. Anak juga harus dilatih untuk mengindahkan pengumuman.

Hasto

SUMBER : tabloid nova edisi 4-10 Nov 2013




 
Index Berita
 
 

[Promo Yayasan Praktek Psikolog Indonesia] : Training gratis tema-tema psikologi untuk sekolah, perusahaan, dan masyarakat umum

© 2019 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer