Pengajaran Disiplin Pada Anak

Rizki Washarti Siregar - 2013-12-12 16:58:45
Rizki Washarti Siregar
 

Disiplin memiliki peran penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak, namun banyak orangtua menyadarinya, namun kurang berusaha untuk menerapkannya secara benar. Pengajaran disiplin yang tidak benar mengakibatkan terjadinya tingkah laku yang tidak diinginkan seperti rasa percaya diri yang rendah, penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang ataupun penggunaan kekerasaan. Dalam konteks akademis, siswa dengan disiplin yang rendah akan cenderung malas belajar. Tingkah laku tersebut umumnya diakibatkan oleh emosinya yang mudah bergejolak dan tidak terkontrol.

Kata disiplin berasal dari kata Latin “disciplinare” yang berarti “mengajar”. Melalui disiplin, anak dapat mengendalikan dirinya, menjadi mandiri dan memiliki sikap mengasihi. Disiplin seharusnya diterapkan sesuai dengan usia anak dan digunakan untuk memberikan batasan-batasan yang wajar kepada anak, seiring dengan memberikan mereka berbagai pilihan yang dapat diterima. Disiplin mengajarkan moral dan standar sosial dan seharusnya digunakan untuk melindungi anak dari bahaya dengan mengajarkan apa yang aman, sembari menuntun mereka untuk menghargai hak dan kepemilikan orang lain.

Dimensi Disiplin

Disiplin memiliki berbagai dimensi, seperti kepatuhan, hubungan dengan teman sebaya, empati, kemampuan memecahkan masalah, percaya diri, emosi, tingkah laku terhadap bantuan dari orang dewasa dan pemahaman akan benar dan salah. Adapun perilaku yang ditunjukkan anak dengan disiplin yang baik dengan disiplin buruk menurut dimensi disiplin dapat dirangkum dalam tabel berikut: 

Dimensi

Perilaku Anak dengan disiplin baik

Perilaku Anak dengan disiplin buruk

Kepatuhan

Terbuka terhadap arahan, bertingkah laku baik, ingin menyenangkan hati orang lain

Tertutup; menentang arahan, nakal, tidak mengetahui tingkah laku apa yang diharapkan, merasa dikendalikan

Hubungan dengan teman sebaya

Mudah menjalin relasi sosial, kooperatif, simpatik, dapat dipercaya, terkenal, bersedia berbagi, memiliki hubungan pertemanan yg dalam, bermakna dan bertahan dlm jangka waktu panjang, dpt berteman dgn klmpk usia yg berbeda

Agresif, manipulatif, egois, tidak bersedia berbagi, mengolok atau menjadi korban pengolokan, tertutup, terisolasi, jauh, tidak dapat dipercaya, tidak terkenal, hubungan pertemanan yang tidak dekat

Empati

Sensitif, memiliki rasa empati, memperhitungkan orang lain dalam membuat keputusan, membantu teman

Egois, tidak sensitif, tidak simpatik

Kemampuan memecahkan masalah

Antusias, tekun, positif, jarang frustasi, responsif terhadap instruksi, mudah beradaptasi

Rasa frustasi tinggi, negatif, mudah menyerah, tidak mudah beradaptasi

Percaya diri

Percaya diri dan harga diri tinggi, realistis terhadap kemampuan pribadi

Kurang percaya diri

Emosi

Ekspresif sesuai dengan situasi, menunjukkan afeksi

Amarah yg tdk terkontrol, bereaksi tdk pantas; terlalu bereaksi atau terlalu santai

Tingkah laku terhadap bantuan dari orang dewasa

Mengharapkan bantuan, menggunakan bantuan dengan bijak, percaya diri dalam percakapan dengan orang dewasa, kontak mata

Tidak percaya, tidak mencari bantuan, menghindari kontak mata

Pemahaman akan benar dan salah

Merasa tulus bersalah ketika bertingkah laku salah, menunjukkan rasa bersalah yg sehat, memiliki pemahaman akan benar dan salah

Tidak merasa bersalah, bingung akan pemahaman benar dan salah

Meski demikian, perlu dicatat bahwa pengajaran disiplin juga bergantung dari tingkat kematangan kognitif anak. Perkembangan kognitif menurut Jean Piaget terdiri dari empat tahap berbeda yakni Sensori-motor (0-2 tahun) dimana sensori anak baru berkembang, Preoperation (2-7 tahun)  dimana anak mulai memiliki kemampuan anak untuk berpikir tentang obyek atau benda, kejadian, atau orang lain mulai berkembang, Concrete operations (7-11 tahun) dan  Formal operations  (11 hingga masa dewasa) dimana individu mulai memahami perspektif orang lain dalam melihat suatu permasalahan. Anak usia 11 tahun seharusnya sudah dapat membuat keputusan dengan tepat. Kemampuan individu membuat keputusan yang cerdas dan etis disebut dengan autonomy

Bagi sebagian besar orang, tujuan pendidikan adalah menciptakan individu dengan disiplin yang baik, sesuai prinsip autonomy Piaget. Prinsip autonomy meyakini bahwa individu dapat hidup dengan mandiri. Sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif ini, maka orangtua selayaknya mengajarkan disiplin kepada anak sesuai dengan kemampuan kognitif mereka. Oleh karena itu, orangtua sebagai orang terdekat dengan anak memiliki peran yang paling besar dalam pengajaran disiplin. Pengajaran disiplin yang diterapkan oleh orangtua, erat kaitannya dengan pola asuh yang diterapkan oleh mereka. Kompetensi sosial dan performa akademik seorang anak berhubungan dengan pola asuh yang diterapkan orangtua. Ada tiga macam pola asuh. 

Pola Asuh Orangtua

Pada dasarnya terdapat empat pola pengasuhan anak yakni Authoritharian, Authoritatif, Permisif dan Neglected.

1. Pola Asuh Autoritharian

Biasanya tampak pada orangtua yang sangat menuntut kontrol terhadap perilaku anak, sesuai dengan aturan-aturan ketat dan standar orangtua diterapkan secara keras dan cenderung memaksa. Pola asuh seperti ini dapat menghalangi anak untuk berkembang secara maksimal sesuai dengan potensinya dan anak dapat merasa frustrasi, kesal, tidak berani dan merasa tidak yakin pada dirinya sendiri.

2. Pola Asuh Autoritatif

Tampak di mana kontrol yang kuat dilatih dan diterapkan dengan cara yang penuh kasih sayang dan dalam suasana yang mendukung. Tujuan orangtua adalah menghargai dan meningkatkan kebebasan dan kemandirian anak, sekaligus memastikan bahwa perilaku mereka sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. Pada pola ini, ada proses memberi dan menerima secara verbal, kontrol diberikan berdasarkan strategi yang rasional dan berorientasi pada masalah, serta orangtua bersedia memberikan penjelasan kepada anak tentang keputusan-keputusan yang diambil oleh orangtua. Orangtua ini fleksibel namun tegas, memelihara kontrol dan disiplin dengan memberikan alasan yang tepat.

3. Pola Asuh Permisif

Orangtua biasanya menghargai ekspresi diri anak dan pengaturan terhadap diri sendiri. Mereka tidak banyak memberi tuntutan, mengijinkan anak untuk sebanyak mungkin memonitor aktivitas mereka sendiri. Mereka memandang dirinya sebagai sumber (resources), menghindari diberlakukannya kontrol, dan tidak mendorong anak untuk mematuhi peraturan yang ditentukan oleh pihak eksternal. Mereka tidak mengontrol, tidak menuntut, dan cukup hangat. Namun demikian, anak biasanya akan tetap merasa tidak puas karena merasa tidak nyaman tanpa adanya kontrol, sehingga anak menjadi tidak mampu menghadapi rasa frustrasi, mengalami kesulitan dalam menerima tanggung jawab, tidak dewasa secara sosial-emosional, dan kurangnya kontrol diri serta rasa percaya diri.

4. Pola Asuh Neglected

Adalah pola asuh yang cenderung menelantarkan anak. Oranguta cenderung bersikap acuh, tidak perduli terhadap anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan ini umumnya tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.

Teknik Pengajaran Disiplin

Selain pola asuh, juga terdapat berbagai teknik untuk mengajarkan disiplin kepada anak. Displin terdiri dari berbagai pendekatan berbeda yang menggunakan model, sikap, ganjaran (reward) dan hukuman (punishment) untuk mengajarkan dan menumbuhkan tingkah laku yang diterima secara sosial kepada anak. Teknik-teknik tersebut adalah ganjaran positif, pemberian penjelasan, pembuatan peraturan, hukuman dan penarikan hak istimewa (Banks, 2002). Berikut adalah penjelasan mengenai teknik-teknik tersebut:

1. Ganjaran Positif (Postive Reinforcement)  

Ganjaran positif sangat penting dalam penerapan disiplin. Salah satu bentuk ganjaran positif yang paling ampuh adalah perhatian orangtua. Orangtua sebaiknya memberikan perhatian bila anak menunjukkan tingkah laku yang baik dibandingkan bila menunjukkan tingkah laku yang tidak diinginkan. Sayangnya, tingkah laku yang tidak sesuai norma lebih sering mendapatkan perhatian dari orangtua. Orangtua seharusnya mengidentifikasi tingkah laku yang baik dan langsung memberikan masukan atau ganjaran positif sehingga anak dapat mengasosiasikan ganjaran positif dengan tingkah laku yang baik. Ganjaran dapat berupa senyuman, pujian, hak-hak khusus ataupun benda. Sistem token juga efektif untuk anak-anak. Dalam teknik ini, anak mendapatkan ganjaran (seperti tanda bintang) untuk tingkah laku yang baik, namun apabila anak menunjukkan tingkah laku yang tidak baik, maka tanda bintang akan ditarik kembali. Setelah kurun waktu tertentu, jumlah bintang dapat ditukarkan dengan hadiah berupa benda.

2. Pemberian Penjelasan (Verbal Instruction/ Explanations)                   

Kemampuan kognitif anak usia remaja awal sudah cukup berkembang. Oleh karena itu, pemberian penjelasan kepada mereka mengenai apa yang baik dan tidak baik dapat dilakukan. Anak usia remaja awal juga cenderung menghargai apabila mereka dianggap sebagai orang dewasa yang dapat berpikir kritis, oleh karena itu pemberian penjelasan akan membuat mereka merasa dihargai.

3. Pembuatan Peraturan (Establishment of Rules)                                                                                       

Pembuatan peraturan yang tegas dapat berjalan efektif, apabila hal ini dibuat bersama dengan anak. Anak usia remaja awal, sudah dapat berpikir lebih dalam dan memberikan penjelasan, sehingga dalam pembuatan peraturan di rumah orangtua sebaiknya menghargai pendapat anak. Apabila peraturan yang berlaku di rumah disetujui oleh anak pula, kemungkinan kecil anak akan melanggarnya.

4. Hukuman (Grounding)                                                                                              

Hukuman terkadang merupakan elemen yang penting dari disiplin, namun agar penerapan hukuman dapat berjalan efektif, hukuman harus dipasangkan dengan ganjaran untuk tingkah laku yang baik. Hukuman seharusnya digunakan untuk pembelajaran dan bukan untuk membalas dendam. Orangtua seharusnya tidak menghukum tingkah laku yang merupakan bagian dari perkembangan anak (seperti menghisap jempol pada balita) dan juga tidak mengolok anak.

5. Penarikan Hak Istimewa (Witholding Privileges)                                                        

Penarikan hak istimewa pada anak usia remaja awal merupakan metode yang ampuh dalam menerapkan disiplin. Hal ini dapat dilakukan bila anak melanggar peraturan yang telah dibuat bersama, seperti menarik haknya untuk pergi bersama teman-temannya ke pusat perbelanjaan ataupun haknya menonton televisi. 

Bagaimana dengan Anda , apakah Anda sudah menerapkan pola asuh yang tepat? Apakah Anda sudah menggunakan teknik penerapan disiplin? Tidak ada kata terlambat karena menjadi orangtua adalah pekerjaan sepanjang hayat. Semoga anak Anda tumbuh menjadi individu yang berdisiplin tinggi.

(Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi)


 
Index Berita
 
 

[Promo Yayasan Praktek Psikolog Indonesia] : Training gratis tema-tema psikologi untuk sekolah, perusahaan, dan masyarakat umum

© 2019 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer