Stress Management Bagi Ibu Bekerja

Adib Setiawan, M.Psi - 2016-11-02 02:12:37
Adib Setiawan, M.Psi
 

TANYA :

"Assalamu'alaikum Pak Adib, Soya Ibu rumah tangga sekaligus wanita karier juga di suatu perusahaan, menjalani pe­ran ganda ini tentunya stress itu tidak bisa dihindari. Bagaimana cara memanage stres agar tidak berbahaya untuk psikologis saya?"

Terima kasih.

Marcety, Tangsel.

JAWAB :

Waalaikumsalam Ibu Marcety. Me­mang saat ini secara umum kebanyakan seorang Ibu rumah tangga menjalani pe­ran ganda sebagai wanita karier. Namun ada juga yang murni sebagai Ibu rumah tangga. Baik sebagai Ibu rumah tangga saja ataupun berperan ganda sebagai wanita karier juga sering kali seseorang mengalami tuntutan yang datang dari sekelilingnya. Tuntutan bisa datang dari harapan diri sendiri, harapan orang lain, harapan atasan ataupun harapan anak dan juga harapan pasangan. Ketika sese­orang belum mampu memenuhi harapan tersebut tentunya menjadi sesuatu yang menekan atau sering kita sebut stres.

Stress kadangkala berdampak positif ketika mampu dikelola sehingga harapan yang belum dicapai kemudian tercapai. Namun, stress kadangkala berdampak negatif jika ada gap terlalu besar antara harapan dan kenyataan sehingga harapannya tidak tercapai. Harapan yang tidak tercapai terlalu banyak bisa menyebabkan stres akut dan kadangkala bagi seseorang yang tidak mampu mengelolanya atau me-manage maka bisa berdampak pada munculnya depresi. Depresi merupakan situasi stres yang menumpuk, tidak mampu dicapai, badan menjadi tidak stabil seperti biasanya misalnya kurang makan, makan berlebih, tidak bisa tidur, sedih yang berlebihan, atau kadangkala tidak realistis menilai diri sendiri. Seseorang yang depresi kadangkala juga tidak semangat dan seolah-olah menjadi malas melakukan sesuatu.

Stress merupakan hal yang biasa.Yang penting bagaimana seseorang mampu mengatasi stres. Dari mana datangnya stres sebagai seseorang Ibu rumah tang­ga yang menjalani peran ganda? Stres da­tang dari atasan, dari rekan kerja, dari tun­tutan kerja, dari pasangan, dari anak, dari lingkungan sekolah, dari pengasuh, dari mertua, atau orang lain. Seorang wanita berperan ganda dituntut mampu meng­asuh anak dan sekaligus menyelesaikan tugas kerja di lingkungan kerjanya. Bagai­mana mengatasinya, tentunya disesuai­kan dengan tingkat beban kerja, peran pa­sangan dan seberapa banyak waktu yang diluangkan ke anak.

Seorang wanita berperan ganda se­cara umum mampu bekerja dengan baik dan bekerja secara produktif. Hal ini kare­na dia sebelumnya bekerja sudah bebera­pa tahun, kemudian menikah dan selan­jutnya memiliki anak. Masalah yang sering muncul adalah anak sakit. Ketika anda me­miliki anak usia 0-2 tahun, seringkali anak mudah sakit. Anak sakit karena kadangka­la sedang membangun daya tahan tubuh sehingga kadangkala anak suka panas. Bagaimana menangani anak yang sakit? Secara umum anak jika sakit misalnya flu, batuk, diare atau keseleo, maka bisa me­nyebabkan anak panas. Jika anak panas, maka cobalah untuk segera memberikan obat penurun panas. Salah satu orang tua misalnya Ibu atau ayah sebaiknya segera pulang ketika anak sakit dan pantau per­kembangan anak sampai sembuh. Beri­kan penurun panas beberapa kali sesuai aturan dan jika belum sembuh segera da­tang ke dokter. Cobalah membaca banyak artikel tentang sakit pada anak sehingga anda mengerti bagaimana anak berkem­bang.

Selain mengatasi sakit pada anak maka cobalah untuk memaksimalkan waktu cuti untuk memberikan ASI eks­klusif. Cobalah memompa susu saat anak masih di bawah 1 tahun saat bekerja ke­mudian simpan dan berikan padanya. De­ngan memberikan ASI maka daya tahan tubuh anak semakin baik. Pengasuhan anak ketika anda bekerja bisa dititipkan ke orang tua Anda, mertua, atau ke baby sit­ter yang profesional. Walaupun ada baby sitter tetap jika sakit panas, maka anda segera pulang. Anak sebaiknya juga men­dapatkan imunisasi, rajin ke posyandu dan pantau perkembangan berat badan anak Anda. Jika Anda memastikan berat badan anak Anda, anak mau makan, dan anak berkembang selayaknya anak-anak lain, maka Anda akan tidak stres ketika bekerja karena anak telah tertangani.

Pada usia 2-4 tahun merupakan masa-masa emas perkembangan anak Anda. Prinsipnya cobalah jangan memanjakan anak, dan latih anak keterampilan melompat, bersepeda, bermain ayunan, bermain prosotan, bermain bola, bermain boneka, bermain mobil-mobilan, mewarnai, mengucapkan banyak kata, mengungkapkan keinginan, dan toilet training merupakan hal yang sangat penting.

Pada anak usia 5-7 tahun maka Anda tinggal mengembangkan anak ini untuk menjadi pribadi yang menyenangkan bagi yang lainnya. Syaratnya adalah pada usia 2-4 tahun anak sudah mandiri sesuai usianya misalkan mampu makan sendiri, mampu pipis sendiri, memakai celana sendiri, mampu mengungkapkan diri.

Stres lainnya dari anak adalah dari pasangan. Kadangkala pasangan Anda belum siap menjadi ayah atau Ibu. Kadangkala dia juga mencari kesenangan pribadi atau dia berusaha mengatasi kebosanan hidup misalnya dengan 'hal yang kurang baik' dalam pergaulan. Seringkali rumah tangga seseorang diuji oleh kejadian tersebut. Kejadian tersebut bisa disebabkan karena pasangan merasa tertekan karena pasangannya terlalu sibuk bekerja atau bisa juga karena dia tergoda oleh situasi di luar. Cobalah untuk terbuka dengan pasangan tentang pendapatan, keinginan ingin punya anak berapa, anak ingin sekolah di mana, ingin punya rumah di mana dan lain lain. Jika ada masalah yang kecil maka bicarakan dan buat kesepakatan bersama. Luangkan waktu minimal seminggu 2 kali selama minimal 90 menit berbicara dari hati ke hati dengan pasangan Anda. Tanyakan keinginan pasangan Anda apa? Cobalah untuk memenuhinya. Jika belum bisa memenuhi maka jelaskan alasannya pasti pasangan Anda akan mengerti.

Tidak ada korelasi antara Ibu yang bekerja dengan kesuksesan anak. Kesuksesan anak ditentukan oleh waktu orang tua kepada anak untuk mendidika anak. Jika Anda secara bersungguh-sungguh meluangkan waktu untuk anak, maka anak akan merasa bahagia dan dihargai. Kadangkala Ibu bekerja juga membuat anak lebih mandiri. Misalnya, anak terbiasa menyiapkan kebutuhan sendiri mulai kebutuhan sekolah, makan atau lainnya. Semakin komitmen keluarga kuat maka kesuksesan dan masa depan anak semakin besar.

Tips

1. Cobalah untuk menyeimbangkan kepentingan pekerjaan dan keluarga.

2. Cobalah membaca artikel tentang pengasuhan dan motivasi kerja misalnya bagaimana mengasuh bayi, mengasuh anak ataupun menghadapi anak di usia remaja. Sesuaikan dengan usia anak Anda.

3. Bangunlah fondasi keluarga dengan pasangan dengan menetapkan cita-cita ataupun harapan bersama mulai dari ingin punya anak berapa, ingin tinggal dimana, kapan ingin memiliki rumah, anak mau sekolah di mana, dan keinginan mau berlibur di mana. Sebaiknya diskusikan se­cara bersama-sama dan jangan membu­at keputusan sendiri pada masalah yang strategis.

4. Berusaha terbuka dengan pasang­an tentang pekerjaan dan penghasilan. Jika ada masalah di tempat kerja tidak ada salahnya bercerita ke pasangan sepanjang tidak melanggar rahasia perusahaan. Sa­ling berikan dukungan pada pasangan Anda.

5. Meluangkan waktu minimal 2 kali dalam seminggu minimal 90 menit untuk berbicara dari hati kehati untuk membica­rakan hal-hal yang terkait dengan keluar­ga.

6. Cobalah berbagi tugas dengan pasangan tentang pengasuhan anak.

7. Komunikasikan dengan pengasuh apa yang dilakukan anak jika anak sakit.

8. Jika anak sakit sebaiknya ayah atau Ibu izin tidak bekerja.

9. Jangan pulang terlalu malam dan sebaliknya pulanglah secepatnya mungkin dan selanjutnya luangkan waktu pada anak untuk berkomunikasi ataupun mengarahkan belajar anak.

10. Bekerjalah secara efektif, efisien, dan produktif. Produktivitas kerja tidak tergantung berapa lama bekerja namun seberapa efektif Anda menyelesaikan tu­gas-tugas kerja.

11. Cobalah melihat kemampuan diri sendiri secara objective apakah sudah se­suai dengan penghargaan perusahaan atau belum.

12. Jadilah pribadi yang berkualitas dalam pekerjaan dan saat berkeluarga. Di pekerjaan jadilah orang yang menye­nangkan sehingga ketika Anda pindah perusahaan maka rekan kerja Anda mera­sa kehilangan. Di rumah cobalah menjadi orang tua yang dekat dengan anak dan selalu diingat oleh anak ketika mereka de­wasa. Anak akan selalu mengingat peran orang tua yang mengasuhnya.

13. Cobalah mengikuti kegiatan fam­ily gathering yang diadakan kantor pa­sangan. Jika tidak ada, cobalah mengenal beberapa rekan kerja pasangan misalnya dengan cara silaturahmi atau meminta pa­sangan menjemput saat pulang kerja.

14. Luangkan waktu saat anak pen­tas, mengambil raport anak, dan cobalah menumbuhkan keinginan anak. Misalnya anak ingin mengambil jurusan apa, maka cobalah diskusikan dan arahkan.

15. Jangan melakukan kekerasan fisik dan verbal pada anak dari usia bayi sampai dia dewasa. Hal ini membuat anak trauma dan anda akan semakin stres.

16. Mengasuh anak adalah suatu hal yang prioritas dari pada Anda mencari ke­senangan pribadi.

17. Bekerja sesuai dengan kemam­puan dan hobi. Pastikan pekerjaan yang Anda lakukan anda senangi dan anda ti­dak terpaksa.

18. Belajarlah bagaimana mengem­bangkan karir dan bagaimana berumah tangga dari lingkungan sekitar anda baik teman sekerja atau orang yang lebih tua.

19. Jangan mengumbar kesenangan pribadi yang bertentangan dengan sema­ngat keluarga bahagia yang harmonis dan juga pekerjaan Anda.

20. Upayakan anak Anda mau berceri­ta pada anda sehingga anak terbebas dari masalah ketika di usia remaja.

ESQ Life | Edisi 02 | Tahun IV | Oktober 2016


 
Index Berita
 
 
© 2018 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer