Menyikapi Diri Bekerja di Bawah Tekanan

Adib Setiawan, M.Psi - 2017-06-11 01:54:29
Adib Setiawan, M.Psi
 

Tanya

Assalamualaikum wr wb.

Pak Adib yang dirahmati Allah Sub­hanahu Wa Ta'ala. Saya sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan terkadang mengalami tekanan kerja yang membuat saya menjadi tidak nyaman dan stress. Pa­dahal inginnya menjadi seorang yang pro­duktif. Bagaimana saya menyikapi kondisi kerja yang selalu berada di bawah tekanan?

Intan, Jaktim.

JAWAB :

Wa alaikum salam Mbak Intan di Jakarta Timur.

Seseorang hidup tentunya ada tekanan. Termasuk seseorang yang bekerja sebagai karyawan tentunya juga ada tekanan. Me­mang kadangkala seseorang bekerja mera­sa tidak nyaman dan stres. Walaupun demi­kian jika tekanan-tekanan terus dihadapi, maka seseorang akan merasa nyaman. Jika seseorang sudah terbiasa bekerja, maka akan merasa nyaman. Sebagai contoh sese­orang fresh graduate yang baru bekerja ten­tunya awalnya tidak nyaman. Apalagi ketika kuliah banyak waktu luang sehingga ruti­nitas berangkat pagi pulang malam ketika bekerja membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Jika situasi ketidaknyamanan dihadapi dan dijalani, maka seseorang akan menjadi nyaman. Seseorang yang terus menghadapi tekanan, maka dirinya akan mampu menguasai pekerjaan yang dige­lutinya.

Lagian dalam bekerja tentunya sese­orang yang bekerja selalu ada yang meng­arahkan. Apapun pekerjaan anda pasti ada yang mengarahkan. Misalnya Anda seorang marketing. Maka biasanya akan mendapat­kan pelatihan product knowledge, kemam­puan presentasi, dan kemampuan bertemu orang. Anda akan diarahkan pada atasan Anda sehingga akhirnya mampu mencapai target sepanjang apa yang diminta oleh atasan Anda dijalankan.

Begitu juga ketika Anda menjadi staf ke­uangan. Ada atasan Anda yang mengajari Anda ketika menyelesaikan tugas. Anda juga bisa bertanya pada bidang yang sama baik sesama pegawai dalam satu group, pegawai cabang lain atau posisi yang sama yang bekerja di perusahaan lain. Biasanya ada milis profesi yang bisa membantu. Se­seorang yang terbiasa menghadapi tugas, maka akan mampu mengatasi ketidakny­amanan.

Seseorang yang merasa tidak nyaman justru memicu untuk sukses. Seseorang yang karena lulusan SMA merasa tidak nya­man dengan tuntutan kerja yang banyak, namun dengan gaji yang kecil, maka memi­cunya untuk kuliah. Ketika kuliah wawasan meningkat dan keahlian meningkat. Hal tersebut membuat seseorang lulusan SMA yang kemudian kuliah akhirnya mampu menjadi nyaman ketika pekerjaan yang di­jalankannya sesuai dengan gaji yang dida­patkan olehnya.

Begitu juga seseorang yang karena saja merasa gaji yang didapatkan tidak cu­kup untuk kehidupan yang akan datang dan kebutuhan lainnya, maka membuatnya termotivasi untuk kuliah S2. Sehingga keti­ka lulus S2, maka dia menjadi nyaman ka­rena mendapatkan penghasilan yang layak. Kehidupan manusia terus berjalan sehingga banyak karyawan merasa tidak nyaman na­mun mau tidak mau harus berangkat kerja dari subuh, naik kereta api berdesak-desa­kan dari luar ujung ibu kota, pulang malam, dan kadangkala merasa lelah. Namun, kare­na seseorang bekerja demi kebutuhan ke­luarga karena memiliki anak dan pasangan hidup yang perlu dinafkahi maka seseorang walaupun tidak nyaman akhirnya terus be­kerja. Dengan terus berusaha akhirnya se­seorang memiliki keterampilan yang lebih dalam menjalani pekerjaan. Ketika bekerja secara maksimal membuat dihargai seca­ra layak oleh perusahaan sehingga mem­buatnya merasa nyaman.

Ketika seseorang merasa menguasai suatu keterampilan tertentu dan sudah bekerja selama 2 sampai 4 tahun, biasanya ingin karirnya meningkat. Misalnya seorang supervisor ingin menjadi manager ketika sudah beberapa tahun menjadi supervisor. Jika dia menginjak tahun keempat tetap menjadi supervisor, maka dia ingin men­jadi manager baik di tempat yang sama, ataupun di perusahaan lain. Hal ini karena ia sudah merasa yakin dengan kemam­puan yang dimilikinya. Dia juga memiliki keterampilan yang layak. Sehingga jika dia tidak naik posisi, maka merasa ada tekan­an. Tekanan bukan karena tidak mampu menyelesaikan tugas, namun tekanan lebih kepada tuntutan hidup supaya penghasilan meningkat. 

Ketika karirnya meningkat, maka dia mendapatkan penghasilan sesuai harapan­nya. Seseorang yang digaji tinggi, tekanan nya juga tinggi. Misalnya target tinggi dan harapan atasan atau harapan perusahaan juga tinggi. Hal tersebut membuatnya ka­dangkala di salah satu sisi keuangan lebih tinggi bisa didapatkan dan tuntutan kerja tinggi. Namun, tuntutan pekerjaan yang belum dikuasainya membuatnya kadang stres. Kadangkala dia merasa menyesal ke­luar kerja di tempat sebelumnya. Namun, dia akhirnya perlu berusaha mengatasi ken­dala-kendala kerja yang cenderung mene­Kan tersebut. Cobalah berlatih mengambil keputusan dan menyadari konsekuensi dari keputusan tersebut.

Tekanan-tekanan pekerjaan yang membuat tidak nyaman bisa datang dari berbagai hal baik keterampilan pekerja­an, kepribadian atasan, kondisi rekan ker­ja, tuntutan atau target pekerjaan, situasi lingkungan kerja. Misalnya di luar ruangan, tuntutan hidup, dan hubungan keluarga yang kurang harmonis. Setiap orang merasa memiliki tekanan yang terkait dengan pekerjaan yang dijalaninya. Keterampilan suatu pekerjaan bisa didapatkan di bangku pendidikan, pengalaman pekerjaan dan pelatihan-pelatihan. Kadangkala seseorang yang kurang pengalaman, namun sudah belajar di bangku kuliah, maka tinggal me­ningkatkan kemauan dia untuk belajar dari para senior dan belajar dari pengalaman se­belumnya.

Kepribadian atasan yang selalu men­untut, kurang membimbing, pengalaman atasan yang tinggi, namun kurang mam­pu mengembangkan anak buah membuat anak buah merasa tertekan. Kadangkala anak buah sudah berbuat banyak, namun kurang diapresiasi, membuat anak buah merasa tidak nyaman. Seseorang yang ti­dak nyaman seringkali mempengaruhi ki­nerja dan produktivitas kerja. Oleh sebab itu cobalah hadapi ketidaknyamanan sehingga akhirnya menjadi nyaman dan dalam be­kerja semakin produktif. Jika perlu, miliki motivasi internal yang kuat untuk maju.

Sebagaimana yang dikatakan oleh J.B. Rotter (1954) seorang psikolog Amerika yang berusia 97 tahun (1916 — 2014), yang menjelaskan teori tentang pusat kenda­li manusia (locus of control). Ada dua tipe, yaitu tipe internal dan eksternal. Seseorang yang bertipe Pusat Kendali Eksternal (PKE), menganggap bahwa faktor luar dirinya yang menentukan kesuksesan dirinya. Seba­liknya seseorang yang bertipe Pusat Kenda­li Internal, maka menganggap bahwa faktor dirinya yang menentukan kesuksesan diri­nya di waktu yang akan datang. Akan lebih baik jika seseorang memiliki motivasi inter­nal sehingga tidak menyalahkan orang lain.

Ketidaknyamanan bisa juga datang dari rekan kerja. Rekan kerja yang menja­di pesaing atau rekan kerja yang berusa­ha "menjilat" atasan barangkali membuat tidak nyaman karyawan lain. Rekan kerja yang ingin naik jabatan dengan cara tidak fair bisa membuat tidak nyaman rekan lain­nya. Tetap bekerja semaksimal mungkin supaya hasil lebih produktif. Namun, ada juga ketidaknyamanan bekerja karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan rekan kerja yang lain.

Kadangkala seseorang ingin diperhati­kan rekan kerja yang lain. Namun karena ti­dak diperhatikan, maka membuatnya tidak nyaman. Ada juga orang merasa tidak nya­man karena beda pandangan dengan re­kan sekerjanya. Target pekerjaan yang ting­gi juga membuat tidak nyaman. Beberapa orang ketika target belum tercapai akan merasa down dan tidak nyaman. Atasan perlu memotivasi karyawan dengan cara nnemberikan coaching dan counseling ke­pada karyawan yang merasa tidak nyaman. Misalnya dengan menemani karyawan be­kerja, melakukan kunjungan bersama. Hal ini bisa membuat anak buah kembali merasa nyaman dan semangat. Kondisi ekono­mi yang naik turun tidak stabil kadangkala mempengaruhi penjualan sehingga diper­lukan inisiatif dan kreativitas dalam bekerja.

Situasi lingkungan kerja kadangkala juga membuat tidak nyaman. Misalnya se­seorang bekerja di lapangan merasa tidak nyaman karena lebih suka kerja di belakang meja. Atau seseorang yang suka bekerja di luar ruangan namun lebih banyak di da­lam ruangan bisa juga membuat kurang nyaman. Akan lebih baik jika pekerjaan di­jadikan seperti hobi sehingga dalam men­jalankan tugas merasa nyaman. Tuntutan hidup bisa juga membuat tidak nyaman. Misalnya seseorang yang bekerja meng­harapkan penghasilan sekiansupaya bisa membeli sesuatu, maka jika tidak kesam­paian, maka menjadi tidak nyaman. Ada beberapa karyawan mensyukuri penghasi­lannya, namun ada juga yang kurang men­syukuri sehingga banyak mengeluh. Terus berusaha bekerja secara maksimal dengan meningkatkan kemampuan, keterampilan (skill) dan juga kompetensi supaya karir me­ningkat dan penghasilan meningkat.

Hubungan keluarga yang kurang har­monis juga bisa membuat tekanan saat bekerja. Ketika seorang suami istri sering berantem di rumah bisa juga mempenga­ruhi pekerjaan. Hal ini bisa terjadi karyawan yang sudah menikah ataupun yang belum menikah. Seseorang yang sudah menikah namun kurang komunikasi, terlalu lama be­kerja sehingga waktu keluarga kurang, dan mau menang sendiri. Hal tersebut juga bisa mempengaruhi kinerja seorang karyawan tersebut.

Ketika suasana hati di rumah tidak nya­man, maka ketika bekerja bisa terpengaruh. Seseorang yang belum menikah bisa juga dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang tidak sesuai harapannya sehingga seseorang bekerja merasa tidak nyaman. Kurangnya doa pasangan hidup bisa juga membuat pekerjaan menjadi kurang nya­man.

Kesimpulan : Tekanan pekerjaan yang terpenting diha­dapi. Terus tingkatkan pengetahuan, kete­rampilan/keahlian (skill) dan kompetensi supaya lebih ahli menghadapi tekanan. Jika terus dihadapi dan tanggung jawab kerja diselesaikan, maka akan berubah menjadi kenyamanan. Jadikan pekerjaan anda hobi sehingga merasa nyaman.

Tips bekerja dengan nyaman dan mampu menghadapi tekanan dalam bekerja :

1. Terus tingkatkan pengetahuan, keterampil­an / keahlian (skill), dan kompetensi melalui melanjutkan pendidikan, training, belajar dari pengalaman, dan belajar dari yang lebih ahli misalnya senior.

2. Hadapi tekanan dan tuntutan kerja dengan cara menyelesaikan tugas kerja dan terus berusaha.

3. Tekanan kerja bersifat sementara karena be­lum ahli atau belum menguasai, maka jika diselesaikan nanti tidak menekan.

4. Tekanan merupakan hal yang membuat individu matang dan dewasa terhadap pe­kerjaan. Terus kerjakan maka anda semakin matang pada profesi anda.

5. Cobalah menjadi pendengar yang baik dan pengamat yang baik terhadap sekeliling Anda, jangan merasa sok tahu. Jika Anda mampu mengamati maka keterampilan Anda akan meningkat.

6. Cobalah bekerja sesuai dengan SOP atau aturan yang ada supaya tidak terjadi suatu masalah yang akan menekan Anda.

7. Niatkan bekerja adalah ibadah. Jangan lupa setiap bekerja berdoa dan minta doa pada pasangan Anda jika sudah menikah dan minta doa sama orang tua supaya pekerjaan lancar.

8. Berlatih mengambil keputusan yang terkait pekerjaan dan menyadari dampak dari kepu­tusan yang diambilnya. Jangan sampai me­nyesal ketika memutuskan pindah pekerjaan atau membuat keputusan tertentu.

9. Memiliki motivasi internal untuk maju dan tidak beranggapan kesuksesan seseorang ditentukan faktor eksternal. Yakini bahwa ke­suksesan seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dirinya dan usaha dirinya.

10. Cobalah bekerja secara efektif dan efisien.

11. Pastikan Anda menyenangi pekerjaan anda dan Anda memiliki minat dalam pekerjaan anda. Hal ini supaya bekerja seperti hobi.


Sumber: ESQ Life Edisi 4 Tahun IV Desember 2016



 
Index Berita
 
 
© 2017 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer