Bijak Menegur Anak

Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi - 2018-01-16 14:58:52
Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi
 

Menegur anak bisa dilakukan sejak usia dini, ketika mereka mulai mengenal lingkungannya. Umumnya saat usia anak sekitar setahun dan mulai belajar bicara agar paham dan hal-hal baik itu bisa terbawa hingga dewasa. Orang tua pun harus menyampaikannya dengan hati-hati karena bisa berpengaruh kepada kepribadian anak.

Seperti yang disampaikan Psikolog Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi, cara menegur pun sebaiknya memperhatikan usia, tingkat kematangan dan berpikir anak. Misalnya anak usia setahun ingin menggigit taplak meja, orang tua cukup menegur dengan kata-kata seperti,"Eh, eh," tanpa perlu memberi penjelasan panjang.

"Jika orang tua ingin mengatakan, 'Itu taplak meja bukan untuk dimakan, kotor,' akan lebih baik. Tapi pada usia sangat dini, anak belum paham konsepitu, kata-kata ringkas sudah cukup menandakan anak melakukan kesalahan," Jelas psikolog yang biasa disapa kiki ini.

Anak usia 2 - 7 tahun umumnya memiliki pengetahuan mengenai benda-benda dan lingkungannya, namun masih berfikir egosentris atau fokus segala hal pada dirinya. Saat itulah orang tua bisa memberi penjelasan yang berhubungan dengan diri anak.

"Contohnya, anak main cat dan buat dirinya kotor lebih baik katakan, 'Cat bukan untuk main-main. Lihat, baju kamu kotor, jadi tidak bisa dipakai lagi'. Ketimbang,'jangan main-main dengan cat, bajunya nanti kotor, mama enggak bisa cuci catnya sampai hilang'," papar Kiki.

Di atas usia 7 tahun, umumnya anak mulai berfikir logis. Kalau mereka melakukan kesalahan, orang tua dapat menegur dengan memberi pemahaman yang masuk akal. Begitu juga saat usia anak 11 tahun ke atas, sudah dapat berfikir abstrak. Misalnya membuat mereka berfikir andaikan mereka berada dalam posisi orang lain.

TIDAK DI HADAPAN ORANG LAIN

Selain usia dan tingkat kematangan berfikir, orang tua juga harus memperhatikan kepribadian anak. Perlu diingat, setiap anak itu unik. Misalnya jika anak sering berbicara blak-blakan, mungkin bisa menegur dengan cara demikian,  tanpa berbelit-belit.

Tapi ada juga anak yang sensitif, bila kesalahannya tidak bersifat fatal, sebaliknya orang tua tidak menegur di hadapan orang lain agar anak tidak merasa dipermalukan yang dapat membuatnya dendam pada orang tua atau tumbuh jadi pemalu.

"Gunakan kata-kata yang bijak, tidak mempermalukannya atau membuatnya rendah diri. Bagaimanapun, sebagian besar anak melakukan kesalahan karena kurangnya pemahaman, bukan disengaja," jelas psikolog dari Yayasan Praktek Psikolog Indonesia, Bintaro, Jakarta Selatan ini.

Cara menegur yang tidak tepat juga bisa membentuk kepribadian anak jadi tidak percaya diri atau defensif. Jika anak ditegur seperti: 'Kamu selalu salah! Selalu lupa matikan lampu! Gimana sih?' bisa berpengaruh pada kepribadian anak.

Meski terlihat sepele, namun jika diucapkan dengan nada tinggi dan terus menerus tanpa disertai solusi akan membuat anak gusar. Karenanya, berfikir sebelum menegur anaka adalah kuncinya. Tapi jangan takut untuk menegur, sebab anak perlu tahu apa yang benar dan salah

POLA ASUH YANG SAMA

Kesibukan kadang membuat orang tua memercayakan pengasuhan sehari-hari pada neneknya atau orang lain. Tak jarang hal ini menimbulkan masalah jika ada perbedaan pola asuh dan bisa membingungkan anak, saat mereka melakukan kesalahan.

Oleh karena itu, penting memastikan jika anak diasuh orang lain, maka orang tersebut memiliki pemahaman pola asuh yang sama dengan orang tua. Jangan sampai saat anak melakukan kesalahan, orang tua menegurnya, tapi tidak ditegur saat dibawah pengasuhan nenek atau pengasuhnya. "Kuncinya terletak pada konsistensi dan komunikasi yang baik. Siapapun yang mengasuh, harus sepakat apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak. Hal yang sama juga berlaku bagi suami-istri, jika tidak konsisten, anak akan bingung dan pemahamannya dengan hal-hal yang baik dan buruk jadi lemah," pungkasnya

Sumber : WI 1456 11-17 Januari 2018


 
Index Berita
 
 
© 2018 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer