Anak Suka Cari Perhatian

Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi - 2018-09-26 01:43:30
Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi
 

Perilaku mencari perhatian umumnya lebih disebabkan kondisi dan situasi anak ketimbang usianya. Karenanya, anak bisa melalui fase ini pada usia berapa saja, tidak ada ketentuan maupun kecenderungan pada sesuatu usia yang khusus.

Anak yang suka cari perhatian biasanya mudah menangis. teriak-teriak, marah, jahil atau menunjukan perilaku negatif lainnya. Namun, ada juga anak yang suka cari perhatian dengan sikap yang terkesan positif, seperti ingin dirinya terus yang berbicara dan mendominasi situasi. Seperti dijelaskan psikolog Rizky Washarti Siregar, BA, M.Psi, umumnya anak suka cari perhatian bila orang tua memang kurang perhatian. Namun, bila sudah diberi perhatian, anak masih caper (cari perhatian -red), ada beberapa kemungkinan perilaku tersebut muncul.

"Bisa karena kurang mandiri, ada yang kurang percaya diri maka selalu butuh dorongan dan dukungan orang tua, dan ada pula yang terlalu dimanja sehingga merasa orang tua memang seharusnya selalu mencurahkan segala atensi dan tenaga mereka untuk dirinya," papar psikolog yang biasa disapa Kiki ini.

Anak yang kurang mandiri, lanjut Kiki, umumnya akan minta perhatian orang tuanya dengan selalu minta tolong. Sedangkan yang kurang percaya diri selalu butuh pengakuan dari orang tuanya seperti, gambarnya bagus, permainan pianonya bagus dan sebagainya.

BERDAMPAK SAMPAI DEWASA

Secara psikologi, jika anak cenderung cari perhatian dengan bersikap kasar dan terus menerus dibiarkan, ada kemungkinan tumbuh jadi pribadi yang terbiasa bersikap kasar dan menggunakan kekerasan. Anak juga bisa jadi pribadi yang emosional dan tidak bisa mengontrol diri.

Sedangkan anak yang cari perhatian karena kurang percaya diri bila dibiarkan dapat tumbuh jadi pribadi rendah diri dan merasa dirinya kurang mampu, bahkan penakut.

"Biasanya cenderung menutup diri, ketika dewasa kurang senang berinteraksi dengan lingkungan sekitar, takut ambil risiko atau kurang terbuka terhadap hal-hal dan pengalaman baru. Saat memasuki dunia kerja, cenderung jadi pekerja yang pasif, tidak banyak menginisiasi sebuah pekerjaan dan malas menerima tantangan baru," kata psikolog dari Yayasan Praktek Psikolog Indonesia, Bintaro, Jakarta Selatan ini.

Di luar itu, anak yang memang cari perhatian karena kurang perhatian akan tumbuh menjadi individu yang cuek, apatis, tidak peduli lingkungan sekitar karena terbiasa hidup dalam lingkungan yang demikian

TIDAK HARUS SELALU DITURUTI

Bila orang tua memang kurang memberi perhatian, cara menyikapinya jelas harus beri pada anak dan konsisten. Tapi, bagaimana jika anak mencari dengan merengek atau menangis meraung-raung?

Jika hal tersebut terjadi, bukan berarti mereka perlu mengabulkan semua permintaan anak. Karenanya, orang tua harus bijak dan memberi penjelasan mereka mungkin tidak akan menuruti kehendak anak.

"Bila anak sudah bisa lancar bicara, tanyakan baik-baik apa masalahnya," jelas Kiki.

Kalau penyebabnya karena kurang mandiri, biasakan anak mengerjakan tugas-tugas dasar sendiri seperti, mengerjakan tugas sekolah, menyapu kamarnya atau mengambil makanannya sendiri.

Anak yang suka mencari perhatian karena kurang percaya diri, orang tua perlu memberi penguatan dan pengakuan, mendorong anak untuk percaya kemampuannya dengan mengakui dia pandai melakukan berbagai hal dalam batasan yang wajar.

"Contohnya, anak mendapat nilai 8, orang tua bisa bilang. 'Hebat. Bunda tahu kamu cerdas. Lain kali, kalau kamu belajar lebih giat lagi, bunda rasa kamu bisa dapat nilai 9'" kata Kiki seraya mencontohkan

Sumber : WI 1485 20 September - 3 Oktober 2018 | 21


 
Index Berita
 
 
© 2018 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer