Jangan terlalu sering kasih hadiah ke anak

Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi - 2019-03-18 21:30:37
Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi
 

Gara-gara takut salah, orang tua kadang-kadang tak berani berkata "tidak" kepada anak. Padahal, mengabulkan setiap keinginan anak, apalagi membanjirinya dengan hadiah, justru enggak bagus buat perkembangan anak.

Kira-kira, gimana reaksi Anda ketika si kecil membuang sampah ditempatnya? Apakah Anda akan memujinya. "Wah, anak Mama hebat. Buang sampah memang harus di tempat sampah, ya, Dek."

Sebaliknya, ketika si kecil membuang sampah sembarangan, apakah Anda akan mendiamkannya juga, ataukah justru menegurnya, "Adek, tidak boleh buang sampah sembarangan. Buang sampah harus di tempat sampah. Ayo, ambil sampahnya dan buang di tempat sampah."

Nah, ternyata, cara orangtua merespons perilaku anak, akan membuat perilaku tersebut diulang kembali. Atau justru sebaliknya, kecil kemungkinan untuk terjadi lagi.

Pendapat ini disetujui oleh Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi., psikolog. "Orangtua perlu merespons perilaku baik agar anak memahami bahwa perilaku mereka terpuji, sehingga diharapkan mereka akan mengulang perilaku tersebut atau menunjukannya secara konsisten," jelas Kiki, sapaan akrab psikolog pendidikan ini.

Caranya? "Yang paling mudah adalah orangtua mengatakan atau memberikan pujian," tambah Kiki. Contohnya, seperti sudah disinggung di awal tulisan. Atau, ketika si kecil hendak sikat gigi sebelum tidur, kita bisa mengatakan, "Iya, Dedek betul sekali, sebelum tidur harus sikat gigi. Pintar!"

Sebaliknya, ketika anak berperilaku buruk, Kiki mengajurkan untuk menegur si anak. "Katakan kepada anak bahwa hal itu memang buruk. Kalau orangtua tidak menegurnya, ada kemungkinan anak tidak tahu dan akan mengulang perilaku tersebut."

Sertai dengan Penjelasan

Berkata "tidak" bukanlah hal yang tabu. Begitu menurut Kiki. "Jika suatu hal memang tidak boleh dilakukan, maka orangtua harus berani dengan tegas mengatakan 'tidak'. Tetapi tentu dengan disertai penjelasan 'mengapa', sehingga anak paham arti dari 'tidak' tersebut."

Misalnya, nih, anak ingin pergi bermain bersama temannya, padahal PR-nya belum selesai. Kita sebagai orangtua bisa mengatakan, "Kamu tidak boleh bermain bersama temanmu, karena kamu belum mengerjakan PR yang merupakan kewajibanmu. Tapi, apabila kamu sudah selesai mengerjakan PR, maka kamu boleh bermain dengannya."

Selain menegaskan "peraturan" tidak tertulis yang berlaku, hal ini juga bertujuan untuk mengajari anak bersikap tegas di kemudian hari. Sehingga saat anak menginjak remaja atau dewasa, bila mereka diajak teman untuk merokok atau minum minuman keras, maka anak berani menolak dan berkata "tidak"

Kalau orangtua mengatakan "tidak" tapi tidak pakai penjelasan, memang apa akibatnya ?

Bisa-bisa anak malah tumbuh menjadi orang yang penakut atau pencemas, dalam arti takut gagal, takut berbuat salah, atau takut mencoba hal baru.

Sebaliknya, bila orangtua sama sekali tak pernah berkata "tidak", ada kemungkinan anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak memahami peraturan, norma, serta ketentuan-ketentuan lainnya yang ada di masyarakat.

"Kuncinya terletak pada pemberian penjelasan atau konsekuensi dan konteks. bukan sekedar mengatakan 'tidak'," tegas Kiki yang telah berpengalaman lebih dari 10 tahun sebagai psikolog.

Hanya untuk Momen Istimewa

Jika orangtua sah-sah saja mengatakan "tidak", bagaimana dengan pemberian hadiah? Menurut Kiki, boleh saja orangtua memberi hadiah karena ingin memberikan ganjaran (reward) atas kerja keras anak. Contoh, anak menjadi juara umum di sekolahnya saat ujian akhir tingkat nasional SD. Nah, orangtua dapat memberi hadiah karena hal tersebut hanya terjadi satu kali dalam waktu enam tahun sang anak bersekolah di Sekolah Dasar.

Contoh lain, anak selalu ranking 15 dari 20 anak di kelasnya, lalu tiba-tiba meningkat ke ranking satu. Apabila orangtua ingin memberi hadiah, hal tersebut dapat dilakukan.

Hadiahnya juga tidak harus beruba barang, tetapi bisa pula dalam bentuk tamasya atau aktivitas spesial, seperti merakannya dengan makan-makan di restoran kesenangan sang anak. Orangtua dapat menanyakan kepada anak atau menyesuaikan dengan keinginan anak.

Namun ingat, pemberian hadiah kepada anak jangan sampai mengganggu pengeluaran bulanan orangtua. Menurut Kiki, pada prinsipnya, pemberian hadiah dapat dilakukan berdasarkan kondisi finansial orangtua dan keistimewaan situasi/perilaku anak. Jadi tidak boleh terlalu sering juga. "Kalau terlalu sering, ada kemungkinan sang anak akan terkondisikan dan akibatnya hanya mau berperilaku baik bila ia mengetahui ada imbalannya. Oleh karena itu, sebaiknya pemberian hadiah tidak dibiasakan, namun dapat dilakukan pada momen-momen tertentu," papar lulusan the University of Queensland di Brisbane, Australia (2004) yang melanjutkan pendidikan S2-nya di Universitas Indonesia ini.

Sebenarnya, kunci dari menanamkan perilaku baik pada anak terletak pada kemampuan orangtua mengkomunikasikan dampak dari suatu perilaku dan pemahaman anak. Kalau anak sudah memahaminya, tanpa perlu dipuji-puji atau dikasih hadiah, anak sudah termotivasi sendiri, kok, untuk menjadi anak yang baik.

TAK PERLU HADIAH UNTUK PERILAKU SEHARI-HARI

Pemberian hadiah tak dianjurkan untuk merespons perilaku sehari-hari, seperti bangun tidur cepat waktu, selalu mengerjakan PR, dll. Kalau untuk perilaku baik sehari-hari, lebih lazim kira berikan pujian saja.

Kalau semuanya direspon dengan hadiah, hal tersebut jadi bukan sesuatu yang istimewa. "Perilaku baik sehari-hari adalah perilaku yang memang sepatutnya ditampilkan," jelas Kiki

Terlepas apakah ada hadiah/pujian atau tidak, diharapkan pada usia tertentu, anak sudah berhasil menunjukan perilaku baik tanpa diminta dan tanpa ada imbalan. Contoh, menyikat gigi sebelum tidur. Perilaku ini diharapkan sudah dapat dipahami anak ketika memulai Sekolah Dasar, sehingga tidak memerlukan pujian lagi ketika mereka melakukannya.

Lagipula, kalau setiap hal kita kasih hadiah, jadi boros, dong.

 

 

Nova.id | NOVA 1620/XXXII 11-17 MARET 2019


 
Index Berita
 
 

[Promo Yayasan Praktek Psikolog Indonesia] : Training gratis tema-tema psikologi untuk sekolah, perusahaan, dan masyarakat umum

© 2019 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer