Ingin Si Kecil Cerdas Seperti BJ Habibie? Ini Kuncinya

Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi - 2019-09-24 15:35:54
Rizki Washarti Siregar, BA, M.Psi
 

Cara kita mendidik anak berpeluang menentukan kecerdasannya. Bagaimana, ya, caranya ?

Ketika BJ Habibie berpulang 11 september 2019 lalu, seluruh masyarakat Indonesia berduka. Kita kehilangan seorang tokoh ilmuwan yang cerdas. Ya, kecerdasan Habibie begitu mengagumkan sehingga banyak orangtua yang bercita-cita anaknya  sepintar pak Habibie.

Konon, kejeniusan Habibie telah terbentuk sejak kecil. Selain karena keenceran otaknya, juga karena hasil didikan ayahnya. Alwi Abdul Djalil Habibie.

Dalam buku biografinya,Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner,yang ditulis oleh Gina S. Noer dan diterbitkan tahun 2015, terungkap saat berusia 2-3 tahun. Rudy nama kecil BJ Habibie adalah anak yang selalu ingin tahu segala sesuatu dan cerewet menanyakan segala sesuatu yang ditemui dan dilihatnya. Sang ayah pun menjawabnya dengan serius, tetapi dengan cara sesederhana mungkin agar bisa dipahami anak kecil, sehingga keingintahuan Rudy terus tumbuh dan terasah sampai dewasa.

Tak hanya itu, sang ayah juga mengajarkan membaca agar Rudy bisa menemukan jawaban atas pertanyaanya, mengingat sang ayah tidak selalu ada setiap saat Rudy ingin bertanya sesuatu.

Lima Kunci Cerdas

"Ya, sudah tugas orangtua atau wali untuk menumbuh kembangkan kecerdasan anak, bukan hanya kecerdasan intelektual, juga kecerdasan emosional anak," ujar Rizki Washarti Siregar, BA, M. Psi., Psikolog

Dalam ilmu psikologi, jelasnya, dikenal faktor nature (genetika atau keturunan) dan nurture (faktor lingkungan) yang memengaruhi sikap dan sifat seseorang.

Ada psikolog yang berpendapat faktor genetika lebih penting, tapi ada pula yang berpendapat faktor lingkungan yang lebih penting. Harus diakui bahwa keduanya memiliki peran. "Bila kita berbicara mengenai nilai IQ yang menunjukan seseorang jenius, maka besar kemungkinan ini adalah terlahir. Namun demikian, kecerdasan seseorang bisa meningkat seiring dengan banyaknya hal yang ia pelajari. Hal ini adalah faktor lingkungan," papar Kiki, sapaan akrab psikolog kita ini.

Kalau ada pengaruh lingkungan, berarti kita semua punya peluang untuk membuat anak kita pintar. Nah, bagaimana kiatnya, Kiki memberikan beberapa kuncinya.

"Ini adalah sifat dan sikap yang sangat penting dan orangtua wajib mengajarkannya kepada anak. Kesuksesan akademis tidak banyak artinya bila tidak diiringi dengan sifat dan sikap yang positif," ucap Kiki mengakhiri.

1. Menjawab Setiap Pertanyaan

Ketika sudah bisa berbicara, anak mulai punya rasa ingin tahu dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kadang-kadang kita lelah, tapi kita tetap harus menjawabnya. Yang perlu diingat, pada usia 2-7 tahun, anak masih berada dalam tahap perkembangan pra-operasional, yang berarti pemikirannya masih bersifat egosentris. Anak masih belum bisa memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain. Karena itu, kita perlu memberikan jawaban yang mudah dicerna oleh anak. Bisa juga kita pakai contoh-contoh sederhana yang lekat dengan keseharian anak.

2. Biasanak Anak Membaca

Minat membaca bisa dibiasakan sedini mungkin. Sejak masih balita, anak sudah bisa, lho, dikenalkan dengan buku-buku sederhana yang bergambar hewan-hewan lucu, misalnya. Jadi ketika anak menginjak usia baca tulis, membaca sudah merupakan kebiasaan yang tidak dapat ditinggalkan. Orangtua sebaiknya senang baca juga, sehingga bisa jadi contoh atau role model bagi si anak. Jika anak memiliki pertanyaan yang sulit kita jawab, kita bisa bilang, "Wah, Ibu enggak tahu, Dek. Yuk, kita cari jawabannya sama-sama di buku."

3. Mendorong Anak Bersosialisasi

Bermain dengan teman juga merupakan salah satu cara belajar yang baik bagi anak untuk mengelola emosi (belajar mengalah, berbagi, bersimpati, dan lain-lain) serta toleransi. Di Indonesia, dimana suku dan agama beragam, bermain dengan teman-teman adalah cara untuk lebih menghargai satu sama lain serta menghargai dan memahami perbedaan bangsa. Kecerdasan bukan hanya semata-mata akademik, namun juga emosional. Seperti yang Habibie katakan, ilmu tanpa cinta itu bisa berbahaya, oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk juga mengelola kecerdasan emosional anak.

4. Memanfaatkan Gawai

Bisa dipastikan, hampir semua anak sudah memanfaatkannya untuk membantu mencerdasakan anak. Kalau anak senang nonton Youtube, misalnya, kita bisa mencari tontonan yang bermanfaat buat anak. Dari yang sederhana, seperti kartun berbahasa Inggris agar anak mulai terbiasa mendengar bahasa tersebut dan belajar bahasa Inggris, hingga tontonan yang bersifat edukatif lainnya. Sekarang ini juga banyak, lho, aplikasi yang fokus pada pendidikan. Ada aplikasi untuk belajar bersama guru secara jarak jauh, belajar bahasa asing, dan lain-lain.

5. Mengenalkan Lingkungan yang Beragam

Jangan malas mengajak anak ke pantai, gunung, museum, kebun binatang, tempat-tempat bersejarah, nonton konser musik, atau pertandingan-pertandingan olahraga, dan sebagainya. Ini akan memancing rasa ingin tahu anak untuk mengenali lingkungannya lebih jauh.

Sudah menjadi tugas kita untuk memberikan anak exposure terhadap apa yang ada di dunia ini, memberi kesempatan kepada anak untuk berkembang dan menemukan bakat serta minatnya. Bila orangtua tidak mendukung anak dalam hal ini, besar kemungkinan anak akan tumbuh bimbang dan tidak tahu apa yang ia inginkan atau kerjakan dalam hidup. Di sinilah letak pentingnya peran orangtua.

Penting juga untuk mengajarkan sikap pantang menyerah sehingga anak tak mundur ketika menemui kegagalan, melainkan bisa memetik pelajaran dan melihat segala sesuatunya dari sisi yang positif. Anak pun akan memiliki energi penuh untuk menjadi yang terbaik, seperti Habibie.

 

Nova.id | NOVA 1648/XXXII 23-29 SEPTEMBER 2019


 
Index Berita
 
 

[Promo Yayasan Praktek Psikolog Indonesia] : Training gratis tema-tema psikologi untuk sekolah, perusahaan, dan masyarakat umum

© 2019 YPPI.All rights reserved. Design by ideweb,Developer